Pernah nggak sih lagi santai, duduk lesehan di lantai, terus tiba-tiba dibilang, “Jangan duduk di lantai dingin, nanti ginjal rusak!”? Nasihat seperti ini cukup sering kita dengar dari orang tua atau orang sekitar. Karena terdengar masuk akal, banyak yang akhirnya percaya begitu saja. Padahal, kalau dilihat dari sisi medis, hubungan antara lantai dingin dan kerusakan ginjal ternyata nggak sesederhana itu. Ginjal sendiri merupakan organ yang bertugas menyaring darah, membuang limbah, sekaligus membantu mengatur keseimbangan cairan tubuh.
1. Mitos: Lantai dingin langsung bikin ginjal rusak
Faktanya, mitos. Tidak ada bukti bahwa sekadar duduk di permukaan lantai yang dingin bisa secara langsung menyebabkan kerusakan ginjal. Penyakit ginjal lebih sering berkaitan dengan kondisi seperti tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit kardiovaskular, atau faktor medis lainnya.
2. Mitos: Rasa dingin di pinggang berarti ginjal sedang bermasalah
Belum tentu. Duduk di permukaan dingin memang bisa membuat tubuh terasa menggigil, pegal, atau tidak nyaman, tetapi rasa dingin atau pegal di area pinggang tidak otomatis berarti ginjal bermasalah. Nyeri yang benar-benar berkaitan dengan ginjal biasanya memiliki penyebab tertentu, seperti batu ginjal, infeksi, cedera, atau penyumbatan.
3. Fakta: Kebiasaan sehari-hari tetap bisa memengaruhi kesehatan ginjal
Yang justru lebih perlu diperhatikan adalah pola hidup secara keseluruhan. Cukup minum, menjaga pola makan, aktif bergerak, serta mengontrol tekanan darah dan gula darah jauh lebih relevan untuk menjaga fungsi ginjal dibanding sekadar menghindari lantai dingin.
4. Fakta: Dingin bisa membuat tubuh terasa tidak nyaman
Ketika tubuh bersentuhan dengan permukaan dingin, pembuluh darah di kulit dapat merespons terhadap perubahan suhu. Efek yang terasa biasanya lebih ke sensasi dingin, kaku, atau tidak nyaman, bukan otomatis kerusakan pada organ ginjal.
5. Mitos: Kalau sering duduk di lantai dingin, pasti kena penyakit ginjal
Ini juga mitos. Frekuensi duduk di lantai dingin tidak bisa dijadikan patokan seseorang akan mengalami penyakit ginjal. Kalau seseorang mengalami nyeri pinggang yang menetap, darah dalam urine, nyeri saat buang air kecil, demam, atau perubahan pola buang air kecil, justru gejala tersebut yang perlu diperhatikan dan diperiksa.
Hal menariknya, banyak kebiasaan yang dianggap “merusak ginjal” sebenarnya sering tertukar dengan kondisi lain. Misalnya, saat tubuh kurang cairan, urine menjadi lebih sedikit dan lebih pekat. Dehidrasi sendiri memang bisa memberi beban tambahan pada tubuh dan penting untuk dicegah, tetapi penyebabnya bukan karena seseorang duduk di lantai dingin. Jadi, kalau habis duduk lesehan di lantai dingin lalu pinggang terasa kurang nyaman, jangan langsung panik dan mengira ginjal sedang “masuk angin”. Bisa saja tubuh memang sedang merespons suhu atau posisi duduk yang kurang nyaman. Yang lebih penting adalah melihat gejala lain dan kebiasaan kesehatan secara keseluruhan.
Jadi kesimpulannya, duduk di lantai dingin tidak terbukti secara langsung bikin ginjal bermasalah. Boleh saja duduk lesehan, selama nyaman dan tidak membuat tubuh kedinginan berlebihan. Daripada terlalu takut sama lantai dingin, lebih baik fokus menjaga hal-hal yang memang terbukti penting untuk ginjal: cukup cairan, pola makan seimbang, aktif bergerak, serta menjaga tekanan darah dan gula darah.